Mengapa Go-Jek Tumbuh Subur di Indonesia, Tapi akan Mati di Amerika

“Kalau Go-Jek didirikan di San Francisco, pasti mati (karena regulasi) dalam enam bulan," kata Nadiem Makarim, CEO Go-Jek.\

tirto.id - Pada 2006, Nadiem Makarim pulang ke Indonesia, setelah menyelesaikan studi di Brown University, Amerika Serikat—salah satu kampus tempat ia menimba ilmu selain Harvard Business School. Ia memutuskan bergabung dengan McKinsey, firma konsultasi global.

Dari kisah yang diunggah blog resmi Harvard Business School, Nadiem lebih suka menggunakan ojek daripada menggunakan mobil operasional perusahaan. Efisiensi waktu jadi alasan Nadiem. Namun, sering berinteraksi dengan tukang ojek, ia sadar para tukang ojek bekerja tidak efisien.

“Tujuh puluh persen waktu kerja mereka hanya berdiam diri,” katanya.

Muncul sebuah ide: membuka layanan call center untuk memanggil tukang ojek. Pada 12 Oktober 2010, ide itu mulai diwujudkan dalam bentuk startup bernama Go-Jek. Di masa awal, Go-Jek hanya punya 20 driver atau pengemudi ojek.

Share this Post:
Penulis Yuswardi Ali